Kita Masih Terlalu
Muda
Oleh Marlina Restu S.
Inikah rasanya terbang? Apa dulu saat kaurasakan tubuhmu melayang kau juga merasa damai meski langit jadi semakin jauh dari tatapan? O, inikah rasanya pergi? Apa kau juga meninggalkan rumah kita sepenuh hati? Hati yang dipenuhi kerinduan dan takut kehilangan juga rasa penasaran, tentang pintu surga mana yang akan jadi tujuan? Tapi memang inilah rasanya jatuh! Aku tak lagi takut. Sebab hujan dulu pernah menghanyutkan sepasang diriku bersamamu.
***
Hari ini tiupan
angin masih kencang
sekali, lebih keras dibandingkan sore tadi. Mungkin
para angin jadi lebih berani menghabisi kita saat hari telah gelap.
Sempoyongan kita menghadapainya, menjaga agar raga ini tetap dalam pelukan rumah.
Kita tak bisa menahan diri untuk tak berteriak dan menangis
sesekali, menggelisahkan ibu kita yang kuyakin sedang bimbang. Di rumah ini,
jumlah saudaraku tak terkira, tapi ibu kita seorang diri. Maka pasti ia bimbang
soal anak mana yang harus ia dekap lebih kencang.
Mataku
hanya bisa terpejam, aku tak bisa membayangkan kita berakhir. Kau saudara
kembar kesayanganku, kita adalah sepasang
tangkai. Ibu bilang,
kita harus saling
menguatkan. Lagi pula kita memang terlalu muda untuk berpisah dari rumah
tempat kita lahir, tempat kita mengisi perut dan berebut air, tempat kita tumbuh dan
bertambah besar, tempat kita menatap langit,
menyambut setiap matahari
terbit dan rintik
hujan yang turun,
tempat kita membicarakan masa depan; tentang kita
nanti yang bertambah manis dan didamba oleh setiap mata yang tak sengaja
melihat kita, mungkin juga tempat jasad kita membusuk dimakan hewan-hewan yang
berkelana di malam gelap.
Entah mengapa saat membicarakan masa depan, kau suka membicarakan hal terburuk. Jika sudah begitu, aku malas melanjutkan perbincangan dan mengakhirinya dengan mengataimu lebay dan tak masuk akal. Namun seperti yang kau bilang, hal buruk pasti akan ada saja, dan ya, buktinya hari ini. Rumah kita terus menari mengikuti irama angin. Tiba-tiba hujan ikut turun, barangkali mau menyempurnakan irama menyeramkan yang mengalun. Gelap dan air hujan menelan seluruh tubuh kita. Aku tak pernah merasa setakut ini perihal kehilangan.
"Jangan
takut, aku tak akan melepaskanmu!" Teriak kau keras-keras, mengalahkan suara
hujan. Tangan kita berpegangan makin erat. Kuingin membuka kuncup mataku untuk
melihat wajahmu—yang tak pernah kukira
akan jadi yang terakhir kali.
Gelap. Wajahmu hilang- tampak di bawah kilatan petir.
Bagiku kau bunga tercantik yang pernah ibu kita lahirkan di rumah ini, kuakui meski
kita serupa, tapi kau lebih
elok, lebih harum
dan cantik, mungkin
karna kau lebih sering
tersenyum ketimbang aku. Saat genting
pun, kau sempat-sempatnya tersenyum untuk menenangkanku, meski
kelopak tubuhmu mulai berguguran satu demi satu.
Aku
tak bisa bedakan mana air hujan mana air mataku. Kumohon aku ingin matahari
segera terbit. Membawa malam mengerikan yang terasa amat lama ini pergi
menjauh. Malam yang membuat rumah
kita kehilangan sebagian
daunnya. Ibu kita kehilangan sebagian
anaknya. Saudaraku kehilangan kelopaknya. Dan aku tiba-tiba tertidur,
setelah kelelahan memaki dan merutuki hujan semalaman, dan kehilangan suaramu.
Guncangan
pelan dari tubuh ibu, membangunkan tidurku perlahan, ia menangis sesegukan. Kurasakan separuh hatiku menghilang. Rumah ini terasa lebih sunyi.
Di tangkaimu, kau telah
tiada, tersisa sepasang kelopakmu yang masih kugenggam erat. Dimana engkau?
Kucari-cari, kulihat ke arah bawah. Kelopak yang terlalu muda kini jadi kembang
tak jadi di atas tanah. Buah yang terlalu masak, tergolek dipatuk hewan
berjengger merah. Entah yang mana tubuhmu, kuharap
bukan ia yang kini digiring
sapu lidi untuk
memasuki tempat sampah. Manusia kejam itu pasti akan menyalakan api di sana. Ku tak bisa bayangkan
bagaimana kalian melebur jadi
abu atau mungkin jadi tanah.
Ibu! Ibu!
Lihatlah buah hatimu! Ibu mengalirkan energinya padaku,
memberiku kekuatan.
Tabun berkelun menyesaki langit, angin membawanya ke arah rumah kita. Ibu terbatuk karenanya. Dan entah karenanya juga atau bukan, mataku terasa basah. Kurasakan aroma tubuhmu. Harumnya akan selalu kuingat sepanjang aku bertumbuh. Aku tak pernah melupakan dirimu meski tubuhku tak lagi bunga. Kini aku menunggu rasa manis membuahi kesabaranku, dan uluran tangan tuanku memetikku dengan dahaganya. Aku masih menunggu sebab sekarang pun aku masih terlalu muda untuk meninggalkan rumah kita. Sepanjang waktu, ibu mengalirkan energinya padaku. Sampai suatu hari, semesta mengutus waktu untuk memutuskan ikatan kita; ibu dan buah hatinya yang masih terlalu belia juga untuk meninggalkan rumah.
Ujung galah itu
menyenggol tubuhku berkali-kali. Aku berpegangan erat pada ibu. Kupikir ia mau mempersunting saudariku yang menggantung lebih tinggi dari tempatku, sebab ia telah masak dan mulai dipacari
hewan-hewan malam. Ia amat manis dan menawan, senyumnya mengundang seekor putri
untuk menginap di kamarnya. Tapi galah itu, tak kusangka ia mengincar diriku.
Aku berteriak, aku masih terlalu muda! Tubuhku menggeliat mengguncang dahan
pohon. Entah mengapa galah itu makin bersemangat, dalam hitungan detik,
akhirnya ia mencapai momentum untuk mengerat pegangan tangan ibu yang selalu menggenggamku. Ikatan
kami terputus. Seketika
aku teringat padamu,
kau pun dulu terlampau
muda saat meninggalkan rumah kita.
Maka
inikah rasanya terbang? Apa dulu saat
kau rasakan
tubuhmu melayang kau juga merasa damai meski langit jadi semakin jauh dari tatapan?
O, inikah rasanya pergi? Apa kau juga
meninggalkan rumah kita sepenuh hati? Hati yang dipenuhi kerinduan dan takut
kehilangan juga rasa penasaran, tentang
pintu surga mana yang akan jadi tujuan.
Tapi memang inilah rasanya
jatuh. Aku tak lagi takut. Sebab hujan dulu pernah menghanyutkan sepasang
diriku bersamamu. Kini sepenuh-penuhnya, meski tak bersama hujan, aku menuju
engkau di saksikan angin-angin.
Masih
dalam damai, pucuk tubuhku membentur tanah, mungkin abu tubuhmu telah menyatu
dalam tanah. O, beginikah rasanya tanah? Kulitku seperti digelitiki oleh butirannya.
Kucari-cari aromamu di sana, belum sempat kutemukan, sebuah telapak tangan manusia
mengangkatku dengan girang
lalu membersihkan tanah
yang melekati tubuhku
dengan sayang, tak lama
kurasakan ia memandikanku di bawah kucuran keran. Air deras itu mengguyur
tubuhku dengan lembut, mengapa hujan tak pernah selembut kucuran air ini? Aku bertanya- tanya pada langit menatapku
penuh iba.
“Ibu! Ibu! Ini mangga
mudanya!” Seru anak itu dengan gembira, ia membawa tubuhku berlari lagi ke dalam ruangan
yang di dalamnya aku tak bisa melihat langit. Ia menyerahkan diriku dengan senangnya kepada seorang perempuan
yang tengah terbaring lesu. Sepertiku, perut
wanita itu mengembang bulat, meski aku tak sebulat
itu. Entah mengapa
aku ikut senang disambut mereka bahagia begitu. O,
inikah rasanya menjelang kematian? Seorang lagi lelaki dewasa datang dalam
ruangan ini. Di tangan kanannya ada sebuah benda keranjang kecil, dan benda
tajam di benda yang lain.
Tidak, aku tak lagi merasa senang, sungguh haruskan semuda ini? Pikirku. Andai manusia-manusia itu bisa melihat keringatku bercucuran. Dengan pasrah aku berusaha membuang takutku dengan memikirkan pintu surga mana yang akan membawaku menghampirimu. Sepanjang tubuhku dikuliti, aku hanya bisa memejam membayangkan senyum dalam wajah cantikmu. Wajah bahagia manusia itu tak sanggup kusaksikan. Untungnya waktu terasa jadi cepat. Tiba-tiba aku menyadari diriku udah berpecah belah. Yang mana yang diriku? Aku bingung. Semua itu potongan tubuhku!
Belum
sempat aku menentukan mana yang paling diriku, pintu surga itu telah terbuka di
depanku (aku semua) atau mungkin di depan kami. Gerbang surga itu menganga
menampilkan deretan gigi dan air liur yang begitu mendambakan aku. Duhai aku yang kepalang muda ini. Tapi setiap
lesapku amat ia nikmati. Sari-sariku memenuhi mulutnya. Tubuhku
yang kini bukan lagi potongan menemukan seorang bayi, detak jantungnya
indah sekali. Begitu menggemaskan. Ia begitu
girang dengan kehadiranku, ia seperti sudah lama menantiku. Ia amat muda, lebih
muda dariku, darimu, dari kami. Ia harus kuat, dan tak boleh menanggalkan diri
semuda kami.

0 Komentar