Siapa yang Cocok jadi Pahlawan?
Oleh
Rafif abbas pradana
Bulan-bulan ini sedang ramai dengan
perdebatan kelayakan Pak Soeharto sebagai pahlawan nasional. Beberapa hari
belakangan ini, perdebatan tentang itu semakin memanas. Namun, sebelum menarik kesimpulan
yang ideal, saya perlu tahu terlebih dahulu apa arti pahlawan itu.
Dari yang saya pahami, pahlawan
adalah seseorang yang melakukan penyelamatan, perjuangan, serta memecahkan
masalah suatu bangsa atau sekelompok. Ketika mendengar nama pahlawan, saya
teringat dengan nama-nama pahlawan di dalam serial Marvel atau DC, seperti
Superman, Batman, dan manusia-manusia super yang melawan para penjahat atau
monster yang menyerang kota.
Pahlawan sering kali dinarasikan
sebagai manusia tanpa salah, selalu diagungkan karena telah memperjuangkan
banyak hal. Tidak sembarang orang bisa menjadi pahlawan. Sejak kecil, saya
ingin sekali menjadi pahlawan. Namun, sekarang impian itu hanya tercapai
sebagai pahlawan kesiangan dengan nilai-nilai kemalasan yang mengakibatkan saya
telat kuliah sejarah peradaban barat.
Ketika melihat ulang peradaban barat,
mereka sering kali membuat film-film pahlawan, khususnya Amerika Serikat. Dari
sumber yang saya baca, jika di Amerika banyak penjahat, maka dibuatlah
film-film itu untuk mengedukasi masyarakat agar bisa menjadi pahlawan yang
melawan kejahatan. Tujuannya guna menumbuhkan nilai-nilai patriotisme dan
kepahlawanan yang harus ditanamkan sejak dini.
Dari sini saya tahu bahwa persoalan
pahlawan tidak akan pernah habis jika dikaitkan dengan konteks pahlawan di
Indonesia. Banyak sekali narasi-narasi kepahlawanan di dalam buku sejarah dari
masa prasejarah hingga reformasi yang tidak terlepas dari peran pahlawan.
Manusia purba mungkin juga memiliki
pahlawan layaknya zaman modern, meski tidak memakai kostum seperti film Hollywood.
Namun di masa itu mereka memperjuangkan kelompoknya dari ancaman binatang buas.
Dari situlah orang-orang yang melakukan perlindungan itu bisa disebut sebagai
pahlawan karena sudah menjaga kelompoknya.
Di sisi lain, manusia purba juga
tidak terlepas dari kesalahan. Bisa saja dalam perlawanan mereka menggunakan
tumbal bayi untuk mengalihkan perhatian binatang buas, atau sengaja memancing
binatang buas agar seolah-olah bertarung sengit supaya diakui sebagai penyelamat.
Padahal, mereka hanya ingin mencari perhatian dan kekuasaan dalam kelompoknya
melalui pengakuan.
Cerita-cerita tentang pahlawan selalu
terasa epik dan menarik dibacakan ataupun didengar. Nama-nama pahlawan berjejer
di setiap masa, dikenang, dan dihormati. Seolah-olah pahlawan bukan manusia,
namun juga bukan dewa. Mereka berada di tengah-tengah.
Setiap pendukung pahlawan akan
membela tokohnya mati-matian seperti membela keyakinan. Mereka berusaha
mensucikan nama pahlawan yang dijunjung. Namun hal itu wajar karena mereka
ingin menjaga nama baik dan kehormatan tokoh yang mereka hormati. Ketika
berlebihan pun, itu adalah bentuk rasa cinta kepada pahlawan-pahlawan yang
telah berkorban demi bangsanya.
Saya mendukung jika para pendukung
ini difasilitasi aspirasinya, karena di dalam setiap dukungan tersimpan
nilai-nilai kepahlawanan. Mereka meyakini bahwa pahlawan tidak memiliki dosa,
bahkan dianggap sebagai titisan para tuhan atau dewa dari langit.
Peran pahlawan dalam narasi sejarah
sangat besar dan memenuhi penulisan sejarah Indonesia. Hampir di setiap
peristiwa sejarah selalu ada tokoh yang memengaruhi jalannya peristiwa itu.
Tidak heran, jika masyarakat menyukai konsep tokoh besar yang berada di posisi
tinggi.
Orang-orang kecil dianggap tidak
memiliki pengaruh karena yang berhak membuat keputusan hanyalah para tokoh
besar. Dalam arti lain, pahlawan menjadi penentu arah sejarah, dan sejarah
hanya mencatat jalan-jalan yang mereka tempuh.
Sejarawan pun sering dianggap tidak
boleh mengurangi nilai-nilai pahlawan yang sudah ditetapkan tinggi. Tidak boleh
menuliskan kesalahan, hanya menuliskan kelebihannya. Karena, seperti yang saya
bilang sebelumnya, pahlawan dianggap berada di antara manusia dan dewa. Tidak
bisa dilihat dengan kacamata manusia biasa.
Maka dari itu, Soeharto sebagai
pahlawan dianggap sudah teruji kebenarannya. Hal itu bisa dilihat dari para
pengikutnya yang membela dengan penuh emosi untuk mendukung pengakuan
pemerintah terhadap dirinya sebagai pahlawan nasional. Namun, di sisi lain,
banyak pula orang yang tidak setuju dengan keputusan ini.
Menurut saya, Soeharto berhak menjadi
pahlawan, tetapi sebagai pahlawan dari golongannya sendiri, yaitu keluarga
Cendana.
Pahlawan juga bisa diartikan sebagai
orang yang berjasa. Dilihat dari pengertian ini, Soeharto memiliki alasan untuk
disebut pahlawan, walau banyak terjadi penculikan di masa pemerintahannya.
Untuk menguatkan argumen saya, bisa
didengar pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang menyebut bahwa Soeharto
tidak terlibat dalam genosida 1965 sampai 1967. Memang, Soeharto tidak secara
langsung melakukan genosida itu, namun pertanyaannya, dari mana ide dan
pelaksanaan genosida itu muncul jika bukan dari dirinya?
Saya melihat adanya kebingungan dalam
pandangan ini. Soeharto memang telah banyak berjasa dalam menumpas
aliran-aliran kiri dan pengkhianatan terhadap negara, serta membalas dendam
atas kematian para jenderal yang dibunuh. Soeharto juga mempersonifikasikan
dirinya sebagai Pancasila, walau banyak yang menentang.
Inilah kehebatan Soeharto sebagai
pahlawan negara yang bisa melawan para penjahat seperti aktivis-aktivis yang
sering menggugat dirinya. Pada akhirnya, beliau digulingkan oleh keadaan dan
para aktivis itu sendiri. Kini para aktivis kembali muncul dan menolak
penetapan Soeharto sebagai pahlawan.
Saya membayangkan jika Soeharto
benar-benar menjadi pahlawan, maka lawan-lawannya akan dianggap sebagai
penjahat. Semua perjuangan reformasi akan terasa hancur oleh kericuhan ini.
Semangat reformasi pun seolah lenyap dalam benak pejabat-pejabat yang
mengajukan gelar ini.
Namun, dari segi administrasi, proses
penetapan gelar tersebut memang panjang dan telah banyak diteliti. Saya melihat
bahwa pahlawan layak disebut pahlawan bagi golongannya sendiri. Golongan
pembela Soeharto berbeda dengan golongan pembela reformasi.
Para aktivis di Senayan kini sibuk
dengan tugasnya sebagai wakil rakyat yang “merakyat”, seperti cita-cita
Soeharto dahulu. Mereka tampaknya setuju dengan keputusan ini karena
kepentingan masa lalu berbeda dengan kepentingan masa sekarang yang penuh
kejutan.
Saya lelah memikirkan penetapan
Soeharto sebagai pahlawan. Saya meyakini bahwa pahlawan adalah orang yang
berjasa bagi kelompoknya. Bagi saya, pahlawan sejati dalam hidup saya adalah
orang tua, yang seharusnya menjadi kandidat pahlawan nasional karena telah
berkorban dan berjasa bagi hidup dan negara ini.
Mengapa kita masih terlena dengan
popularitas tokoh-tokoh besar di dunia ini? Orang-orang yang sering berkorban
untuk negara seperti para pemulung dan tukang sampah yang sering dianggap
menjijikkan justru telah menyelamatkan bumi dari kerusakan ekosistem global.
Saya bersyukur masih banyak orang yang peduli terhadap lingkungannya.
Namun, bau busuk dari masa lalu
seperti amis darah genosida masih tercium kuat hingga sekarang. Saya hanya bisa
menunggu kabar baik atau buruk mengenai keputusan penetapan gelar pahlawan bagi
Soeharto. Gelar itu disematkan pada namanya, bukan pada raga atau jiwanya.
Jika melihat lagi arti pahlawan, kita
bisa merenung kembali apa sebenarnya makna pahlawan itu. Bagaimana pahlawan
bisa menjadi bagian dari penulisan sejarah.
Saya lelah dengan pertanyaan ini. Biarkan pertanyaan ini dijawab oleh para pembaca dan generasi yang akan datang. Generasi yang mengenal Soeharto bukan lagi sebagai presiden, melainkan sebagai pahlawan nasional yang penuh penghargaan atas jasa-jasa selama hidupnya.
0 Komentar