Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Siapa yang Cocok jadi Pahlawan?

Siapa yang Cocok jadi Pahlawan?

Oleh Rafif abbas pradana


Bulan-bulan ini sedang ramai dengan perdebatan kelayakan Pak Soeharto sebagai pahlawan nasional. Beberapa hari belakangan ini, perdebatan tentang itu semakin memanas. Namun, sebelum menarik kesimpulan yang ideal, saya perlu tahu terlebih dahulu apa arti pahlawan itu.

Dari yang saya pahami, pahlawan adalah seseorang yang melakukan penyelamatan, perjuangan, serta memecahkan masalah suatu bangsa atau sekelompok. Ketika mendengar nama pahlawan, saya teringat dengan nama-nama pahlawan di dalam serial Marvel atau DC, seperti Superman, Batman, dan manusia-manusia super yang melawan para penjahat atau monster yang menyerang kota.

Pahlawan sering kali dinarasikan sebagai manusia tanpa salah, selalu diagungkan karena telah memperjuangkan banyak hal. Tidak sembarang orang bisa menjadi pahlawan. Sejak kecil, saya ingin sekali menjadi pahlawan. Namun, sekarang impian itu hanya tercapai sebagai pahlawan kesiangan dengan nilai-nilai kemalasan yang mengakibatkan saya telat kuliah sejarah peradaban barat.

Ketika melihat ulang peradaban barat, mereka sering kali membuat film-film pahlawan, khususnya Amerika Serikat. Dari sumber yang saya baca, jika di Amerika banyak penjahat, maka dibuatlah film-film itu untuk mengedukasi masyarakat agar bisa menjadi pahlawan yang melawan kejahatan. Tujuannya guna menumbuhkan nilai-nilai patriotisme dan kepahlawanan yang harus ditanamkan sejak dini.

Dari sini saya tahu bahwa persoalan pahlawan tidak akan pernah habis jika dikaitkan dengan konteks pahlawan di Indonesia. Banyak sekali narasi-narasi kepahlawanan di dalam buku sejarah dari masa prasejarah hingga reformasi yang tidak terlepas dari peran pahlawan.

Manusia purba mungkin juga memiliki pahlawan layaknya zaman modern, meski tidak memakai kostum seperti film Hollywood. Namun di masa itu mereka memperjuangkan kelompoknya dari ancaman binatang buas. Dari situlah orang-orang yang melakukan perlindungan itu bisa disebut sebagai pahlawan karena sudah menjaga kelompoknya.

Di sisi lain, manusia purba juga tidak terlepas dari kesalahan. Bisa saja dalam perlawanan mereka menggunakan tumbal bayi untuk mengalihkan perhatian binatang buas, atau sengaja memancing binatang buas agar seolah-olah bertarung sengit supaya diakui sebagai penyelamat. Padahal, mereka hanya ingin mencari perhatian dan kekuasaan dalam kelompoknya melalui pengakuan.

Cerita-cerita tentang pahlawan selalu terasa epik dan menarik dibacakan ataupun didengar. Nama-nama pahlawan berjejer di setiap masa, dikenang, dan dihormati. Seolah-olah pahlawan bukan manusia, namun juga bukan dewa. Mereka berada di tengah-tengah.

Setiap pendukung pahlawan akan membela tokohnya mati-matian seperti membela keyakinan. Mereka berusaha mensucikan nama pahlawan yang dijunjung. Namun hal itu wajar karena mereka ingin menjaga nama baik dan kehormatan tokoh yang mereka hormati. Ketika berlebihan pun, itu adalah bentuk rasa cinta kepada pahlawan-pahlawan yang telah berkorban demi bangsanya.

Saya mendukung jika para pendukung ini difasilitasi aspirasinya, karena di dalam setiap dukungan tersimpan nilai-nilai kepahlawanan. Mereka meyakini bahwa pahlawan tidak memiliki dosa, bahkan dianggap sebagai titisan para tuhan atau dewa dari langit.

Peran pahlawan dalam narasi sejarah sangat besar dan memenuhi penulisan sejarah Indonesia. Hampir di setiap peristiwa sejarah selalu ada tokoh yang memengaruhi jalannya peristiwa itu. Tidak heran, jika masyarakat menyukai konsep tokoh besar yang berada di posisi tinggi.

Orang-orang kecil dianggap tidak memiliki pengaruh karena yang berhak membuat keputusan hanyalah para tokoh besar. Dalam arti lain, pahlawan menjadi penentu arah sejarah, dan sejarah hanya mencatat jalan-jalan yang mereka tempuh.

Sejarawan pun sering dianggap tidak boleh mengurangi nilai-nilai pahlawan yang sudah ditetapkan tinggi. Tidak boleh menuliskan kesalahan, hanya menuliskan kelebihannya. Karena, seperti yang saya bilang sebelumnya, pahlawan dianggap berada di antara manusia dan dewa. Tidak bisa dilihat dengan kacamata manusia biasa.

Maka dari itu, Soeharto sebagai pahlawan dianggap sudah teruji kebenarannya. Hal itu bisa dilihat dari para pengikutnya yang membela dengan penuh emosi untuk mendukung pengakuan pemerintah terhadap dirinya sebagai pahlawan nasional. Namun, di sisi lain, banyak pula orang yang tidak setuju dengan keputusan ini.

Menurut saya, Soeharto berhak menjadi pahlawan, tetapi sebagai pahlawan dari golongannya sendiri, yaitu keluarga Cendana.

Pahlawan juga bisa diartikan sebagai orang yang berjasa. Dilihat dari pengertian ini, Soeharto memiliki alasan untuk disebut pahlawan, walau banyak terjadi penculikan di masa pemerintahannya.

Untuk menguatkan argumen saya, bisa didengar pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang menyebut bahwa Soeharto tidak terlibat dalam genosida 1965 sampai 1967. Memang, Soeharto tidak secara langsung melakukan genosida itu, namun pertanyaannya, dari mana ide dan pelaksanaan genosida itu muncul jika bukan dari dirinya?

Saya melihat adanya kebingungan dalam pandangan ini. Soeharto memang telah banyak berjasa dalam menumpas aliran-aliran kiri dan pengkhianatan terhadap negara, serta membalas dendam atas kematian para jenderal yang dibunuh. Soeharto juga mempersonifikasikan dirinya sebagai Pancasila, walau banyak yang menentang.

Inilah kehebatan Soeharto sebagai pahlawan negara yang bisa melawan para penjahat seperti aktivis-aktivis yang sering menggugat dirinya. Pada akhirnya, beliau digulingkan oleh keadaan dan para aktivis itu sendiri. Kini para aktivis kembali muncul dan menolak penetapan Soeharto sebagai pahlawan.

Saya membayangkan jika Soeharto benar-benar menjadi pahlawan, maka lawan-lawannya akan dianggap sebagai penjahat. Semua perjuangan reformasi akan terasa hancur oleh kericuhan ini. Semangat reformasi pun seolah lenyap dalam benak pejabat-pejabat yang mengajukan gelar ini.

Namun, dari segi administrasi, proses penetapan gelar tersebut memang panjang dan telah banyak diteliti. Saya melihat bahwa pahlawan layak disebut pahlawan bagi golongannya sendiri. Golongan pembela Soeharto berbeda dengan golongan pembela reformasi.

Para aktivis di Senayan kini sibuk dengan tugasnya sebagai wakil rakyat yang “merakyat”, seperti cita-cita Soeharto dahulu. Mereka tampaknya setuju dengan keputusan ini karena kepentingan masa lalu berbeda dengan kepentingan masa sekarang yang penuh kejutan.

Saya lelah memikirkan penetapan Soeharto sebagai pahlawan. Saya meyakini bahwa pahlawan adalah orang yang berjasa bagi kelompoknya. Bagi saya, pahlawan sejati dalam hidup saya adalah orang tua, yang seharusnya menjadi kandidat pahlawan nasional karena telah berkorban dan berjasa bagi hidup dan negara ini.

Mengapa kita masih terlena dengan popularitas tokoh-tokoh besar di dunia ini? Orang-orang yang sering berkorban untuk negara seperti para pemulung dan tukang sampah yang sering dianggap menjijikkan justru telah menyelamatkan bumi dari kerusakan ekosistem global. Saya bersyukur masih banyak orang yang peduli terhadap lingkungannya.

Namun, bau busuk dari masa lalu seperti amis darah genosida masih tercium kuat hingga sekarang. Saya hanya bisa menunggu kabar baik atau buruk mengenai keputusan penetapan gelar pahlawan bagi Soeharto. Gelar itu disematkan pada namanya, bukan pada raga atau jiwanya.

Jika melihat lagi arti pahlawan, kita bisa merenung kembali apa sebenarnya makna pahlawan itu. Bagaimana pahlawan bisa menjadi bagian dari penulisan sejarah.

Saya lelah dengan pertanyaan ini. Biarkan pertanyaan ini dijawab oleh para pembaca dan generasi yang akan datang. Generasi yang mengenal Soeharto bukan lagi sebagai presiden, melainkan sebagai pahlawan nasional yang penuh penghargaan atas jasa-jasa selama hidupnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement